Senin, 31 Maret 2014

Dalam Singgahsana




Dalam singgahsana yang beratapkan daun pisang
dan bertikarkan rumput ilalang,
Kucumbui pekat malam dengan kehangatan selimut kulit kijang.

Aku yang terlena akan kemunafikan
mencabuli hati dengan keindahan mutiara,
tak ubahnya mensucikan kotoran anjing
dengan kejernihan embun pagi.

Keringat mengalir disetiap pori-pori tak terbantahkan,
hanya dua tangan yang kumiliki
dan keduanya sebatas daging berlapis saja.
Kosong tiada makna
Namun, berisi walau sebatas udara.


Disitulah aku merajut mulai mimpi.

Dewi Pratiwi




Jelmaan Dewi Pratiwi telah mendekati jiwa
penuh wewangian penggoda malaikat syurgawi
 disetiap hembusannya nafasku sedang tercium
desas-desus membumbui dengan keharumanya
yang merengguk aroma tumpukan kotoran tanpa belas kasihan
 mengalahkan dengan tajam pedangnya
sampai cucuran darah tak ubahnya sungai nil
dalam pasang surutnya mengalirkanku hingga tenggelam
ditengah lautan madu murni nan bersih
dengan lima kali pemurnian membuat diri ini melebur
sebatas butiran debu terbawa tiupan mesrah sang angin

untuk berjumpa denganmu dikuil cinta.